Saturday, July 19, 2014

Tugas Pembelajaran PKP PKN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
PBM (Proses Belajar Mengajar) banyak sekali masalah yang timbul, baik dari siswa maupun guru. Masalah yang berhubungan dengan PBM (Proses Belajar Mengajar) dan hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan atau hal-hal yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru maupun perilaku siswa.
Siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran merupakan sasaran utama program pengajaran. Bagi guru merupakan kepuasan dan kebanggan tersendiri apabila berhasil dalam pembelajaran. Namun, apabila yang terjadi sebaliknya, maka guru dituntut untuk melakukan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas.
Menurut data yang dikumpulkan penulis dalam pembelajaran Matematika tentang perkalian sebagai berikut :
  1. SDN. Sukorejo 25 siswa yang berhasil 11 siswa.
  2. SDN. Gurah I  23 siswa yang berhasil 9 siswa.
  3. SDN. Gurah II 20 siswa yang berhasil 8 siswa.
Penulis berdasarkan data di atas merenungkan apa penyebab permasalahan tersebut dan pada akirnya penulis berdiskusi dengan teman sejawat sehingga penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian tindakan kelas.


A.    Tujuan Penelitian
Penulis melaksanakan perbaikan pembelajaran dari data nilai yang masih di bawah ketuntasan melalui penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran matematika tentang perkalian.
Laporan pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini bertujuan juga untuk memenuhi tugas mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PGSD A412) pada program S-1 PGSD.
B.     Proses Penulisan Laporan
Penulis menyusun laporan ini berdasarkan analisa hasil ulangan matematika siswa yang masih di bawah nilai tuntas, kemudian catatan yang dibuat ketika merancang kegiatan perbaikan, serta selama pelaksanaan dan diskusi pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilakukan dalam 2 siklus PTK. Berdasarkan rangkaian kegiatan-kegiatan di atas akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan ini.
C.    Gambaran Umum Isi Laporan
Penulis secara garis besar menerangkan bahwa pembelajaran matematika memuat 5 bagian yang saling berkaitan, yaitu bab pendahuluan, bab perencanaan perbaikan, bab pelaksanaan perbaikan, bab temuan hasil yang diperoleh, bab penutup yang berisi kesimpulan, saran, dan tindak lanjut serta dilengkapi dengan daftar pustaka dan lampiran-lampiran.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Matematika Sekolah Dasar
Pelajaran matematika di sekolah dasar pada kenyataannya di beri waktu yang cukup banyak dibandingkan mata pelajaran lain, namun demikian prestasi belajar matematika para siswa masih belum memuaskan. Siswa maupun masyarakat umum masih merasa bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dan menakutkan. Hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya obyek matematika itu sendiri yang berbeda dengan mata pelajaran lain yaitu bersifat abstrak. Misalnya tentang konsep bilangan merupakan konsep abstrak, pada kenyataannya siswa hanya dapat menuliskan lambang bilangan tersebut tetapi siswa tidak dapat menunjukkan bilangan itu apa.
Ruseffendi (1979) menyatakan bahwa siswa pada tahap operasi konkret untuk memahami konsep abstrak memerlukan benda-benda konkret sebagai perantaranya. Sedangkan untuk menyajikan konsep abstrak itu dicapai melalui tingkat-tingkat belajar yang berbeda-beda. Beljar siswa akan meningkat bila ada motivasi, karena itu dalam pengajaran diperlukan faktor-faktor yang dapat memotivasi siswa belajar. Sehingga guru dituntut agar dapat menimbulkan minat dan suasana yang menyenangkan antara lain dengan lengkapnya alat peraga/media yang mudah di dapat di lingkungan sekitar.
 
A.    Media/Model Peraga
Kata media berasal dari kata latin medius yang secara harfiah berarti “tengah” atau mengantar. Menurut Gerlach dan Ely dalam Arsyad (2013: 3) “mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kegiatan yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Sedangkan Gagne dan Briggs dalam Arsyad (2013: 6) secara implicit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran yang terdiri dari buku, tape recorder, kaset, video camera, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televise, dan computer.
Dengan kata lain media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

B.     Ciri-ciri Media Pendidikan
Gerlach dan Ely dalam Arsyad (2013: 12) mengemukakan tiga ciri media yang mekrupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media yg mungkin guru tidak mampu (kurang efisien) melakukannya.


a.       Ciri fiksatif (Fixative property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek.

b.      Cara manipulatif (Manipulative property)
Transformasi suatu kejadian atau obyek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik penmgambilan gambar time tape recording.
c.       Ciri distributif (Distributive property)
Ciri distributif dari media memungkinkan suatu obyek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif yang sama mengenai kejadian.
Dari semua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mengulur pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.
 
A.    Kegunaan Media
Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut (menurut Arief Sadiman, 1990: 16) :
1.      Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk lisan belaka).
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera.
3.      Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengurangi sikap pasif anak didik.
Dalam hal ini media pendidikan berguna untu :
a.       Menimbulkan kegairahan belajar.
b.      Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan.
c.       Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.


PERENCANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
PKN

A.    Identifikasi Masalah
Penulis di dalam melaksanakan pembelajaran matematika kelas IV tentang perkalian menggunakan dan mengembangkan banyak metode dan strategi pembelajaran yang ditujukan agar mampu mencapai hasil yang memuaskan atau sesuai dengan tujuan pembelajaran. Namun, selama pembelajaran berlangsung, siswa jarang mengajukan pertanyaan dan terkesan bingung. Penulis mengadakan ulangan sebagai proses tindak lanjut pada materi perkalian, tetapi hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Dari 25 siswa di kelas IV hanya 11 siswa yang mencapai nilai tuntas.
Penulis berdiskusi dengan teman sejawat yang bernama Fitri Wardatul Hamdah guru SDN Kepung V Kediri. Terungkaplah beberapa masalah yang terjadi sebagai berikut :
  1. Rendahnya penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
  2. Siswa kurang aktif mengikuti pembelajaran.
B.     Analisis dan Perumusan Masalah
Penulis melalui refleksi diri dan diskusi dengan teman sejawat dan bimbingan supervisor diketahui bahwa faktor penyebab siswa kurang menguasai materi adalah sebagai berikut :
1.      Guru di dalam menjelaskan materi tertalu cepat.
2.      Guru tidak menggunakan media nyata, sehingga pemahaman anak abstrak.
3.      Kurangnya contoh dan latihan.
 
 Guru tidak melakukan demonstrasi yang melibatkan siswa, sehingga pembelajaran tidak menyenangkan.
Penulis merumuskan fokus perbaikan pembelajaran adalah “Bagaimana cara meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran melalui penggunaan contoh dan latihan”.
A.    Rencana Perbaikan Pembelajaran
Penulis melakukan analisis hasil tentang pembelajaran yang sudah dilaksanakannya dan ternyata penulis merasa belum puas karena hasilnya kurang memenuhi harapan.
Penulis pada akhirnya merencanakan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar.
Langkah-langkah yang direncanakan dalam perbaikan ini adalah
1.      Menjelaskan secara runtut dan jelas.
2.      Memperbanyak contoh dan latihan di dalam pembelajaran.
3.      Mengadakan demonstrasi dengan alat peraga.
Prosedur perbaikan pembelajaran yang dilakukan dengan rencana pembelajaran 2 siklus.
Rencana perbaikan pembelajaran siklus I
  1. Kompetensi Dasar
Siswa mampu melakukan dan menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah.


  1. Hasil Belajar
Siswa menunjukkan kemampuannya untuk menggunakan operasi perkalian dalam pemecahan masalah.
  1. Indikator
Siswa dapat menyelesaikan berbagai permasalahan di dalam perkalian bersusun secara benar.
  1. Tujuan Perbaikan
§  Siswa dapat membedakan bentuk perkalian bersusun panjang dengan bersusun pendek.
§  Siswa dapat menuliskan bentuk perkalian bersusun secara tepat..
  1. Langkah Pembelajaran
1.      Kegiatan awal (10 menit)
a.       Guru melakukan tanya jawab sekilas tentang perkalian sederhana dengan teknik 1 x menyimpan.
Pertanyaan yang diajukan
1)      Permasalahan yang berkaitan dengan perkalian sederhana.
2)      Permasalahan yang berkaitan dengan perkalian dengan teknik 1 x menyimpan.
b.      Menyampaikan tujuan pembelajaran.
Mencari penyelesaian permasalahan perkalian bersusun panjang dan bersusun pendek yang melibatkan operasi hitung bilangan.


1.      Kegiatan inti (50 menit)
a.       Siswa membentuk kelompok minimal 5 siswa (5 menit).
b.      Guru membagikan lembar soal untuk dikerjakan dan didiskusikan secara berkelompok.
Bentuk soal sebagai berikut.
1.      Kerjakan soal di bawah ini dengan cara perkalian sederhana 1x menyimpan!
1.      14 x 5 = …..
2.      33 x 4 = …..
3.      25 x 3 = …..
4.      16 x 8 = …..
5.      17 x 3 = …..
2.      Kerjakan soal di bawah ini dengan perkalian bersusun dengan teknik 1x menyimpan.




a.       Guru menanggapi hasil pekerjaan kelompok dan mendiskusikannya bersama-sama siswa.
2.      Kegiatan akhir (10 menit)
a.       Siswa mengumpulkan hasil kerja kelompoknya.
b.      Siswa bersama-sama guru menyimpulkan model perkalian yang paling mudah diterima oleh siswa.
c.       Guru memberikan tugas kepada siswa untuk menghafalkan perkalian.

  1. Sarana dan Sumber Belajar
1.      Model perkalian bersusun.
2.      Buku Terampil Matematika IV
3.      Buku Fokus Matematika IV


  1. Metode
Demonstrasi, diskusi, tugas, tanya jawab
Pembelajaran pada siklus I ini dilaksanakan bersama oleh teman sejawat yang bertujuan untuk mengobservasi pembelajaran. Berdasarkan hasil diskusi dan tukar pendapat dengan teman sejawat akhirnya ditemukan masalah baru dan jalan pemecahan untuk dilaksanakannya pada siklus ke II
Rencana perbaikan pembelajaran siklus II sebagai berikut.
A.    Langkah Pembelajaran
1.      Kegiatan awal (10 menit)
    1. Guru melakukan tanya jawab tentang perkalian dengan model bersusun panjang dan pendek.
Pertanyaan yang diajukan antara lain.
1)      Permasalahan yang berkaitan dengan perkalian bersusun pendek.
2)      Persamalahan yang berkaitan dengan perkalian bersusun panjang.
    1. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
Mencari penyelesaian permasalahan perkalian bersusun panjang dan bersusun pendek yang melibatkan operasi hitung bilangan.

1.      Kegiatan inti (45 menit)
a.       Guru membagikan soal dalam bentuk esay kepada setiap kelompok yang sudah dibentuk (5 menit).
b.      Guru meminta menuliskan model perkalian bersusun serta mendiskusikan dalam kelompok masing-masing.
Bentuk soal sebagai berikut (40 menit).
Kerjakan dengan cara bersusun pendek 
 
 
1.      Kegiatan inti (45 menit)
a.       Guru membagikan soal dalam bentuk esay kepada setiap kelompok yang sudah dibentuk (5 menit).
b.      Guru meminta menuliskan model perkalian bersusun serta mendiskusikan dalam kelompok masing-masing.
Bentuk soal sebagai berikut (40 menit).
Kerjakan dengan cara bersusun pendek
 
a.       Guru menanggapi dan mendiskusikan hasil pekerjaan kelompok.
1.      Kegiatan akhir (15 menit)
a.       Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang bagaimana menyelesaikan perkalian bersusun yang paling tepat.
b.      Tindak lanjut penilaian akhir.

A.    Metode
Demonstrasi, diskusi, tugas, tanya jawab
Perbaikan pembelajaran pada siklus II ini diharapkan bisa mengetahui masalah pada siklus I dan adanya peningkatan ketuntasan belajar siswa.



No comments:

Post a Comment